Arang, bukan gas
Bakaran pakai arang batok kelapa. Lebih lama, tapi wangi asapnya tidak bisa ditiru.
Tentang kami



Nyate dimulai dari satu gerobak, satu anglo, dan satu kebiasaan: duduk di pinggir jalan sampai lupa waktu.
Angkringan dulu dipikul berkeliling. Penjualnya membawa ceret di satu sisi dan nasi bungkus di sisi lain, lalu berhenti di mana pun ada yang ingin duduk. Dari situ lahir budaya wedangan: makan murah, minum hangat, dan ngobrol dengan siapa saja yang kebetulan duduk di bangku yang sama.
Kami membuka Nyate di Prawirotaman untuk menjaga rasa itu. Satenya tetap dibakar di atas arang batok kelapa, nasi kucingnya tetap sekepal, dan harganya tetap bisa dihitung dengan uang di saku. Yang kami tambahkan hanya hal-hal kecil: dapur yang bersih, tempat duduk yang nyaman, dan pesan online untuk yang ingin menikmatinya di rumah.
Bakaran pakai arang batok kelapa. Lebih lama, tapi wangi asapnya tidak bisa ditiru.
Harga tertulis jelas per tusuk dan per porsi. Tidak ada biaya tersembunyi.
Satu gelas wedang sudah cukup jadi alasan untuk tinggal. Tidak ada yang mengusir.
Buat yang baru pertama kali
Warung gerobak khas Jogja dan Solo yang buka dari sore sampai dini hari. Lauknya ditata di atas gerobak, kamu ambil sendiri, lalu sebutkan ke penjual apa saja yang sudah diambil.




Foto bawaan situs ini diambil dari Wikimedia Commons dengan lisensi bebas dan sudah disesuaikan warnanya. Ilustrasi garis dibuat khusus untuk Nyate. Foto yang diunggah sendiri oleh pengelola tidak termasuk daftar ini.
Buka · tutup 01.00